Siroh

PERKEMBANGAN MANUSIA PASKA BANJIR NABI NUH

Posted on Januari 1, 2013. Filed under: Siroh |

Catatan sejarah yang
menyatakan perkembangan
penyebaran manusia dan
peradaban melalui anak
keturunan nabi Nuh jelas
merupakan hal berbau alkitabiah.

Alkitab memang menyatakan
‘keberpihakanny a’ terhadap banjir besar di jaman nabi Nuh
yang menghancurkan seluruh
kehidupan di dunia (kecuali
orang-orang yang ada diatas
kapal) , setelah banjir selesai
anak keturunan nabi Nuh menyebar keseluruh penjuru
dunia berkembang menjadi
manusia dan peradaban yang ada
saat ini (Kejadian 10). Bahkan
alkitab juga menyampaikan banjir
tersebut bukan hanya melenyapkan seluruh umat
manusia namun juga binatang,
makanya bahtera nabi Nuh diisi
oleh segala macam binatang, mulai
dari gajah sampai cacing. Ketika
banjir selesai, segala binatang yang ikut jadi penumpang
tersebut menyebar ke seluruh
dunia dan berkembang biak
(Kejadian 8:17). Sejarah
perkembangan manusia dari
terciptanya manusia pertama, Adam dan Hawa berkembang
secara linier dan tidak menyebar,
hanya berkembang kepada kaum
nabi Nuh. Ketika alkitab
menceritakan Adam dan hawa
diusir dari taman Eden yang berlokasi di sekitar Babilonia,
Tuhan mengusir mereka kearah
timur (Kejadian 3:24) lalu Adam
dan Hawa beranak-pinak, disebut
juga waktu itu anak-anak
mereka sudah punyai profesi; Habel menjadi pengembala dan
Kain jadi petani (Kejadian 4:2).
Setelah Kain membunuh Habel
(Kejadian 4:8) umat manusia
berkembang melalui keturunan
Kain (Kejadian 4:17-24) sampai kepada Tubal-kain dan Laama,
namun alkitab tidak
mencantumkan berapa lama
rentang waktu antara Kain
kepada Tubal-Kain dan Lamaa.
Sampai disini perkembangan manusia lewat jalur Kain tidak
diteruskan. Disisi lain, lewat jalur
Adam dan Hawa manusia
berkembang secara linier sampai
kepada nabi Nuh dalam rentang
waktu 1271 tahun (Kejadian 5). Dari kedua jalur tersebut ada 1
nama yang sama yaitu Enokh,
tidak dijelaskan apakah itu
merupakan orang yang sama
atau tidak, kalaupun orangnya
sama, maka jalur keturunan Adam dan Kain ‘bertemu untuk kembali
berpisah’ lewat Enokh.. Ketika Tuhan akan menimpakan
banjir besar terhadap manusia,
alasan yang dikemukakan adalah
karena Tuhan menyesal telah
menciptakan manusia mengingat
kejahatan yang dilakukan manusia ketika itu, dan akan
menghapus mereka semua
(Kejadian 6:5-7) , kecuali nabi Nuh
(Kejadian 6:8). Setelah semuanya
musnah, Tuhan lalu ‘berfirman
dalam hati’ untuk tidak lagi mengutuk manusia dan akan
menjaga bumi (Kejadian 8:21-22).
Alkitab secara jelas menyatakan
penyebaran umat manusia dimulai
dari anak keturunan nabi Nuh
(Kejadian 9:19, 10:32). Disini muncul pertanyaan : bagaimana
nasibnya dengan anak keturunan
Kain..?? apakah mereka menyebar
juga ke seluruh dunia..?? apakah
mereka ikut musnah dalam banjir
besar..??. Pernyataan alkitab soal banjir besar yang meluluh-
lantakk an semua makhluk di bumi dalam pernyataan yang jelas
tentang manusia yang
berkembang melalui anak-anak
nabi Nuh memberikan kesan
bahwa semua anak keturunan
dari Kain ikut musnah dalam banjir besar. Namun kita tidak bisa
mengabaikan fakta tentang
adanya temuan arkeologis, bahwa
ternyata diluar kisah banjir nabi
Nuh tersebut pada kurun waktu
yang sama, ditemukan adanya peradaban lain yang masih
berjalan. Peradaban Mesir dan
Mesopotamia sudah dimulai sejak
jaman Neolotikum (8000 – 7000
SM) dan masih terus berlanjut
sampai pada masa setelah banjir besar (thn 4000 SM). Orientalis
Morris Buckey berdasarkan data
dan temuan arkeologis modern
juga menyatakan ada peradaban-
perad aban di berbagai belahan dunia yang nyatanya tetap eksis
hingga generasi-genera si berikutnya. Sezaman dengan
banjir nabi Nuh, sejarah Mesir
kuno tengah menapak fase
pertengahan pertama sebelum
dinasti kesebelas, sementara
Babilonia dikuasai oleh dinasti Ur II. Peradaban kuno tetap lestari dan
tidak mengalami keterputusan
sejarah ataupun binasa total
seperti yang dikatakan kitab
Kejadian tersebut. http:// id.wikipedia.org /wiki/ Timur_Tengah_Kun o Di Indonesia sendiri juga
ditemukan artefak peralatan
pertanian dan berburu pada
jaman yang sama, jauh sebelum
anak keturunan nabi Nuh melalui
rumpun bangsa Mongol beremigrasi ke wilayah Nusantara.
Sekalipun saya tidak setuju
dengan perkembangan manusia
menurut teori evolusi Darwin,
namun fakta-fakta tersebut
tidak bisa kita abaikan hanya karena ingin menegakkan teori
yang sangat dipengaruhi alkitab
tersebut. Sekarang kita bertanya,
bagaimana Al-Qur’an memberikan
‘sinyal-sinyal’ berupa informasi tentang perkembangan
peradaban umat manusia ini..??

Al-Qur’an juga memuat cerita
tentang banjir besar nabi Nuh,
namun tidak menyatakan
keberpihakannya kepada banjir yang memusnahkan seluruh
peradaban, bahkan memusnahkan
seluruh binatang-binata ng. Kisah nabi Nuh disinggung Al-Qur’an
dalam 11 rangkaian ayat, yaitu
QS [7:59-64], QS [10:71-74], QS
[11:25-48], QS [23:23-30], QS
[25:37], QS [26:105-122], QS
[29:14-15], QS [37:78-82], QS [54 :11-16], QS [69:11], QS
[71 :5-28]. Al-Qur’an juga
menggambarkan bahwa banjir
yang terjadi berskala besar
sehingga dikatakan tingginya
sampai ke gunung : wahiya tajrii bihim fii mawjin
kaaljibaali
[11:42] Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung. qaala saaawii ilaa jabalin
ya’shimunii mina almaa-i
[11:43] Anaknya menjawab: “Aku
akan mencari perlindungan ke
gunung yang dapat memeliharaku
dari air bah!” walaqad arsalnaa nuuhan ilaa
qawmihi falabitsa fiihim alfa
sanatin illaa khamsiina ‘aaman
fa-akhadzahumu alththhuufaanu
wahum zhaalimuuna
[29:14] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya, maka ia tinggal di
antara mereka seribu tahun
kurang lima puluh tahun. Maka
mereka ditimpa banjir besar, dan
mereka adalah orang-orang yang zalim. Sekarang mari kita simak
pengertian kata ‘jabaal’ dalam
Al-Qur’an. Kata
’jabaal’ (bentuk tunggal) atau
‘jibaal’ (bentuk jamak), kata ini
terulang 41 kali dalam Al-Qur’an, 39 kali berarti gunung dalam
bentuk tunggal atau jamak, 2 kali
disebut dengan arti ‘sekelompok
orang banyak’ karena
banyaknya seolah-olah
bentuknya ‘menggunung’. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa
kata ‘jabaal’ tidak memberikan
batasan berapa tinggi
gunungnya, beda dengan bahasa
Indonesia, kita biasanya
membedakan antara gunung dengan bukit yang tingginya lebih
rendah. Anda bisa menyebut
‘Jabal Everest’ ataupun ‘Jabal
Sentul’. Jadi ketika Al-Qur’an
mengibaratkan banjir tersebut
‘kaaljibaali’ – laksana gunung, tidak disebutkan berapa tinggi
banjirnya, bisa setinggi gunung
Everest, bisa juga setinggi bukit
Sentul. Demikian pula ketika anak
nabi Nuh menyatakan akan
menyelamatkan diri ke gunung, tidak dijelaskan juga apakah ke
gunung Himalaya atau ke gunung
Uhud. Demikian pula QS 29:14
disebut ‘banjir besar’, padahal
dalam bahasa aslinya
‘alththhuufaanu ’ – angin topan/badai. Jadi semua penggambaran Al-
Qur’an soal banjir besar dijaman
Nuh, tidak mengarah kepada
banjir yang menenggelamkan
seluruh dunia.
Al-Qur’an
menyerahkan semuanya kepada temuan ilmu pengetahuan dan
arkheologi… Dan soal binatang yang naik ke
bahtera, terdapat pada 2
kelompok ayat : hattaa idzaa jaa-a amrunaa
wafaara alttannuuru qulnaa ihmil
fiihaa min kullin zawjayni itsnayni
wa-ahlaka illaa man sabaqa
‘alayhi alqawlu waman aamana
wamaa aamana ma’ahu illaa qaliilun
[11:40] Hingga apabila perintah
Kami datang dan dapur telah
memancarkan air, Kami berfirman:
“Muatkanlah ke dalam bahtera
itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina),
dan keluargamu kecuali orang
yang telah terdahulu ketetapan
terhadapnya dan (muatkan pula)
orang-orang yang beriman.” Dan
tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. fa-awhaynaa ilayhi ani ishna’i
alfulka bi-a’yuninaa wawahyinaa
fa-idzaa jaa-a amrunaa wafaara
alttannuuru fausluk fiihaa min
kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka
[23:27] Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di
bawah penilikan dan petunjuk
Kami, maka apabila perintah Kami
telah datang dan tanur telah
memancarkan air, maka
masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis),
dan (juga) keluargamu, ‘min kullin zawjayni’ artinya
‘dari masing-masingny a sepasang’, namun terjemahan
Al-Qur’an 11:40 kembali
melakukan interpolasi ayat
menjadi ‘masing-masing binatang
sepasang’. Quraish Shihab
terlihat membenarkan soal binatang ini, sebaliknya Sayyid
Qutb, mengatakan bahwa
menafsirkan kata ‘sepasang’
sebagai binatang adalah berbau
Israilliyat, namun beliau tidak
memberikan alternatifnya dan menganggap sebagai hal yang
ghaib (Tafsir Fizhilalil Qur’an jilid
6). Temuan arkeologis
menyatakan tidak ada
pergerakan penyebaran binatang
mulai dari gajah sampai tikus berasal dari satu tempat, maka
hal ini juga tidak bisa kita abaikan
untuk membenarkan penafsiran
yang dipengaruhi alkitab
(Kejadian 8:17) tersebut. Al-Qur’an juga tidak menjelaskan
soal adanya penyebaran manusia
dan peradaban setelah banjir
besar tersebut, ayat yang
‘dekat’ dengan hal tersebut
berbunyi : waja’alnaa dzurriyyatahu humu
albaaqiina
[37:77] Dan Kami jadikan anak
cucunya orang-orang yang
melanjutkan keturunan. Ketika pikiran kita sudah dimasuki
cerita alkitab soal nabi Nuh
(Kejadian 10), maka ayat
tersebut akan mengarahkan
pikiran kita bahwa umat manusia
memang tersebar bermula dari anak keturunan nabi Nuh,
Sebenarnya ayat tersebut adalah
ayat yang bersifat netral, karena
kalau kita merujuk kepada ayat
Al-Qur’an yang lain : laqad arsalnaa nuuhan ilaa
qawmihi
[7:59] Sesungguhnya Kami telah
mengutus Nuh kepada kaumnya.. alam ya/tihim nabau alladziina min
qablihim qawmi nuuhin wa’aadin
watsamuuda waqawmi ibraahiima
wa-ash-haabi madyana waalmu/
tafikaati
[9:70] Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang
orang-orang yang sebelum
mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad,
Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk
Madyan dan negeri-negeri yang
telah musnah? Ayat ini menjelaskan kesejajaran
kaum nabi Nuh dengan kaum
lainnya, sehingga QS [37:77] bisa
juga diartikan maksud
‘melanjutkan keturunan’ adalah
dalam lingkup kaum nabi Nuh sendiri, bukan menyatakan
penyebarannya keseluruh
penjuru dunia. Namun sekali lagi
Al-Qur’an ‘bersikap netral’
dalam hal ini. Sangat menarik memang, ketika
Al-Qur’an menyebut suatu nama
bukit tempat kapal nabi Nuh
terdampar, ini kemungkinan
sebagai ‘hint’ untuk penelitian
yang akan dilakukan manusia setelah itu. waqiila yaa ardhu ibla’ii maa-aki
wayaa samaau aqli’ii waghiidha
almaau waqudhiya al-amru
waistawat ‘alaa aljuudiyyi waqiila
bu’dan lilqawmi alzhzhaalimiina
[11:44] Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit
(hujan) berhentilah,” dan airpun
disurutkan, perintahpun
diselesaikan dan bahtera itupun
berlabuh di atas bukit Judi, dan
dikatakan: “Binasalah orang- orang yang zalim .” Dimana lokasi bukit Judi, banyak
perbedaan pendapat, baik dari
para ulama maupun temuan
arkheologi. Ada pendapat yang
menunjukkan suatu gunung di
wilayah Kurdi, atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada
pendapat lain dari Wyatt
Archeological Research, bukit
tersebut terletak di wilayah
Turkistan Iklim Butan, timur laut
pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu
Umar (Tafsir al-Mishbah).
Sedangkan alkitab menyebutnya
terdampar di gunung Ararat, ini
diduga berada di Turki. Namun
temuan arkeologis tidak mengarah kepada banjir yang
menenggelamkan seluruh dunia,
apakah puncak Himalaya ikut
tenggelam..?? apakah banjirnya
sampai ke Jawa ketika itu..??
yang ada justru temuan arkeologi bahwa peradaban di Mesir dan
Babilonia pada masa yang sama
masih tetap berjalan dan tidak
musnah atau terputus. Kunci untuk mengetahui
penyebaran peradaban ini
sebenarnya ada pada sumber-
sumber yang menjelaskan sejarah
pada kurun waktu dari nabi Adam
sebagai manusia pertama kepada nabi Nuh. Beberapa pendapat
menyatakan bahwa jangka waktu
antara nabi Adam dengan nabi
Nuh sangatlah panjang melingkupi
rentang ratusan ribu bahkan
jutaan tahun, sehingga ketika jaman banjir besar nabi Nuh,
umat manusia sudah tersebar
keseluruh penjuru dunia, menjadi
kelompok-kelomp ok primitif, lalu beradaptasi dengan alam
lingkungannya. Ketika banjir
besar nabi Nuh selesai dan anak
keturunannya menyebar ke
seluruh dunia. Namun sekali lagi,
ini bukanlah kesimpulan yang diambil dari Al-Qur’an, kebenaran
teori ini mungkin akan bisa
diungkapkan kemudian setelah
makin banyaknya ditemukan
artefak dan peninggal kuno yang
akan membenarkan, ataupun mementahkannya. Al-Qur’an sendiri tidak
menjelaskan soal kurun waktu ini.
Kisah nabi Nuh dan beberapa
‘sinyal’ sejarahnya merupakan
kisah yang pertama dari umat
manusia yang diceritakan Al- Qur’an secara lengkap. Memang
terdapat 7 kelompok ayat yang
menceritakan tentang kisah nabi
Adam, QS [2:30-38, QS [7:11-30],
QS[15:28-43], QS[17:61- 65], QS
[18:50], QS[20:115-123], QS [38:71-85], namun sangat sedikit
informasi tentang bagaimana
kehidupan nabi Adam setelah
diturunkan kedunia. Pengisahan
tentang Adam dalam Al-Qur’an
terfokus kepada : (1) pembangkangan Iblis dan ikrarnya
untuk menjerumuskan manusia
serta (2) informasi tentang
penciptaan nabi Adam. Terdapat
juga ayat lain tentang kehidupan
manusia sebelum nabi Nuh, yaitu kisah tentang anak-anak nabi
Adam QS[5:27-31] namun itupun
tidak menginformasika n tentang lokasi ataupun penggambaran
lingkungan, tidak seperti
pengisahan nabi Nuh dan nabi-
nabi lainnya. Al-Qur’an
kelihatannya ‘membuka diri’
agar manusia melakukan penelitian sendiri tentang sejarah
peradaban sebelum jaman nabi
Nuh. Terdapat satu ‘sinyal’ lagi yang
diberikan Al-Qur’an tentang
masa antara nabi Adam dam nabi
Nuh ini, yaitu penyebutan adanya
seorang nabi bernama Idris : waudzkur fii alkitaabi idriisa
innahu kaana shiddiiqan
nabiyyaan warafa’naahu
makaanan ‘aliyyaan ulaa-ika
alladziina an’ama allaahu
‘alayhim mina alnnabiyyiina min dzurriyyati aadama wamimman
hamalnaa ma’a nuuhin wamin
dzurriyyati ibraahiima wa-israa-
iila
[19:56] Dan ceritakanlah (hai
Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di
dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang sangat
membenarkan dan seorang nabi.
[19:57] Dan Kami telah
mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [19:58] Mereka itu
adalah orang-orang yang telah
diberi ni’mat oleh Allah, yaitu
para nabi dari keturunan Adam,
dan dari orang-orang yang Kami
angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, wa-ismaa’iila wa-idriisa wadzaa
alkifli kullun mina alshshaabiriina
wa-adkhalnaahum fii rahmatinaa innahum mina alshshaalihiina
[21:85] Dan (ingatlah kisah) Ismail,
Idris dan Dzulkifli. Semua mereka
termasuk orang-orang yang
sabar. [21:86] Kami telah
memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya
mereka termasuk orang-orang
yang saleh. Nabi Idris adalah nabi yang hidup
sebelum jaman nabi Nuh, cerita
alkitab mempengaruhi penafsiran
bahwa Idris adalah Enokh
(Kejadian 5). Sayyid Qutb
menafsirkannya dengan nama salah satu tokoh Mesir kuno,
yaitu Uzuris. Satu tokoh yang
sama penggambarannya dengan Enokh, yang naik kelangit dan
hidup disana, namun Sayyid Qutb
tidak memastikan hal ini. Cerita
Israilliyat ini kelihatannya
mempengaruhi sementara ahli
tafsir yang mengatakan bunyi QS 19:57 diartikan secara harfiah.
Sumber-sumber Islam sendiri tidak
banyak memberikan penjelasan
tentang nabi Idris ini, ada satu
hadist riwayat ath-Thabarani
melalui Ummu Salamah yang menyatakan nabi Idris berteman
dengan malaikat maut dan
memasuki neraka dan surga
ketika masih hidup. Namun perawi
hadist ini terdapat nama Ibrahim
Ibn Abdullah al-Mashishi, yang dikategorikan oleh para peneliti
hadist sebagai pembohong dan
pendusta. Sebenarnya kita bisa bertanya-
tanya : Apa maksud Al-Qur’an
yang menyatakan bahwa nabi
Idris adalah ‘seorang yang
sangat membenarkan’..? ? Ketika sahabat Rasulullah, Abu
Bakar dijuluki ‘siddiq’ – orang
yang membenarkan, objeknya
jelas yaitu Rasulullah sendiri, yaitu
Abu bakar adalah sahabat yang
selalu membenarkan apapun pernyataan yang dikeluarkan
Rasulullah, termasuk cerita nabi
tentang perjalanan Isra’Mi’raj-
nya , ketika banyak orang, bahkan umat Islam lain yang
meragukannya, Abu Bakar tanpa
‘pikir panjang’
membenarkannya. Mengapa Al- Qur’an memberikan penekanan
sifat ini kepada nabi Idris..?? apa
atau siapa yang telah dibenarkan
olehnya..?? Ini mungkin sinyal
yang diberikan Al-Qur’an untuk
mencari hubungan adanya cerita nabi Nuh dengan fakta arkeologis
tentang kelompok manusia yang
sudah menyebar ketika itu…
wallahualam …(dari berbagai sumber)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

IMAM NAWAWI

Posted on Januari 1, 2013. Filed under: Siroh |

Dari wikipedia bahasa Indonesia
(http://id.wikipedia.org/) Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi
sangat kesohor. Disebut al-
Bantani karena ia berasal dari
Banten, Indonesia. Beliau bukan
ulama biasa, tapi memiliki
intelektual yang sangat produktif menulis kitab, meliputi fiqih,
tauhid, tasawwuf, tafsir, dan
hadis. Jumlahnya tidak kurang
dari 115 kitab. Kelahiran Lahir dengan nama Abû Abdul
Mu’ti Muhammad Nawawi bin
‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini
hidup dalam tradisi keagamaan
yang sangat kuat. Ulama yang
lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan
Tirtayasa, Kabupaten Serang,
Propinsi Banten (Sekarang di
Kampung Pesisir, desa Pedaleman
Kecamatan Tanara depan Mesjid
Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1813 M
ini bernasab kepada keturunan
Maulana Hasanuddin Putra Sunan
Gunung Jati, Cirebon. Keturunan
ke-11 dari Sultan Banten. Nasab
beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad
saw. Melalui keturunan Maulana
Hasanuddin yakni Pangeran
Suniararas, yang makamnya
hanya berjarak 500 meter dari
bekas kediaman beliau di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syaikh
Nawawi. Ayah beliau seorang
Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi,
ibunya bernama Zubaedah.
Pendidikan Semenjak kecil beliau memang
terkenal cerdas. Otaknya dengan
mudah menyerap pelajaran yang
telah diberikan ayahnya sejak
umur 5 tahun. Pertanyaanperta
nyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi
yang begitu besar pada
putranya, pada usia 8 tahun sang
ayah mengirimkannya keberbagai
pesantren di Jawa. Beliau mula-
mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian
berguru kapada Kyai Sahal,
Banten; setelah itu mengaji
kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.
[1] Di usia beliau yang belum lagi
mencapai 15 tahun, Syaikh
Nawawi telah mengajar banyak
orang. Sampai kemudian karena
karamahnya yang telah mengkilap
sebelia itu, beliau mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa
mengajar murid-muridnya yang
kian hari bertambah banyak.
Pada usia 15 tahun beliau
menunaikan haji dan berguru
kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khâtib
al-Sambasi, Abdul Ghani Bima,
Yusuf Sumbulaweni, ‘Abdul Hamîd
Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad
Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati,
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan
Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru
yang paling berpengaruh adalah
Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi,
Syaikh Junaid Al-Betawi dan
Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat
ketiga Syaikh inilah karakter
beliau terbentuk. Selain itu juga
ada dua ulama lain yang berperan
besar mengubah alam pikirannya,
yaitu Syaikh Muhammad Khâtib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan,
ulama besar di Medinah. Nasionalisme dan Gelar-Gelar
Nasionalisme Tiga tahun bermukim di Mekah,
beliau pulang ke Banten. Sampai
di tanah air beliau menyaksikan
praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wena ngan dan penindasan dari Pemerintah Hindia
Belanda. Ia melihat itu semua
lantaran kebodohan yang masih
menyelimuti umat. Tak ayal,
gelora jihadpun berkobar. Beliau
keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah.
Tentu saja Pemerintah Belanda
membatasi gara-geriknya. Beliau
dilarang berkhutbah di masjid-
masjid. Bahkan belakangan beliau
dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika
itu memang sedang mengobarkan
perlawanan terhadap penjajahan
Belanda (1825- 1830 M). Sebagai intelektual yang memiliki
komitmen tinggi terhadap prinsip-
prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syaikh Nawawi
terpaksa menyingkir ke Negeri
Mekah, tepat ketika perlawanan
Pangeran Diponegoro padam pada
tahun 1830 M. Ulama Besar ini di
masa mudanya juga menularkan semangat Nasionalisme dan
Patriotisme di kalangan Rakyat
Indonesia. Begitulah pengakuan
Snouck Hourgronje. Begitu sampai
di Mekah beliau segera kembali
memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Beliau tekun
belajar selama 30 tahun, sejak
tahun 1830 hingga 1860 M
. Ketika
itu memang beliau berketepatan
hati untuk mukim di tanah suci,
satu dan lain hal untuk menghindari tekanan kaum
penjajah Belanda. Nama beliau
mulai masyhur ketika menetap di
Syi’ib ‘Ali, Mekah. Beliau mengajar
di halaman rumahnya. Mula-mula
muridnya cuma puluhan, tapi makin lama makin jumlahnya kian
banyak. Mereka datang dari
berbagai penjuru dunia. Maka
jadilah Syaikh Nawawi al-Bantani
al-Jawi sebagai ulama yang
dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih,
tafsir, dan tasawwuf. Nama beliau semakin melejit
ketika beliau ditunjuk sebagai
pengganti Imam Masjidil Haram,
Syaikh Khâtib al-Minagkabawi.
Sejak itulah beliau dikenal dengan
nama resmi ‘Syaikh Nawawi al- Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi
dari Banten, Jawa. Piawai dalam
ilmu agama, masyhur sebagai
ulama. Tidak hanya di kota Mekah
dan Medinah saja beliau dikenal,
bahkan di negeri Mesir nama beliau masyhur di sana. Itulah
sebabnya ketika Indonesia
memproklamirkan
kemerdekaannya. Mesir negara yang pertama-tama mendukung
atas kemerdekaan Indonesia.[2] Syaikh Nawawi masih tetap
mengobarkan nasionalisme dan
patriotisme di kalangan para
muridnya yang biasa berkumpul di
perkampungan Jawa di Mekah. Di
sanalah beliau menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-
pemik irannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia
Belanda berang. Tak ayal,
Belandapun mengutus Snouck
Hourgronje ke Mekah untuk
menemui beliau. Ketika Snouck–yang kala itu
menyamar sebagai orang Arab
dengan nama ‘Abdul Ghafûr-
bertanya : “Mengapa beliau tidak mengajar
di Masjidil Haram tapi di
perkampungan Jawa?”. Dengan lembut Syaikh Nawawi
menjawab: “Pakaianku yang jelek dan
kepribadianku tidak cocok dan
tidak pantas dengan keilmuan
seorang professor berbangsa
Arab”. Lalu kata Snouck lagi: ”Bukankah banyak orang yang
tidak sepakar seperti anda akan
tetapi juga mengajar di sana?”. Syaikh Nawawi menjawab : “Kalau mereka diizinkan mengajar
di sana, pastilah mereka cukup
berjasa”. Dari beberapa pertemuan dengan
Syaikh Nawawi, Orientalis Belanda
itu mengambil beberapa
kesimpulan. Menurutnya, Syaikh
Nawawi adalah Ulama yang
ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban
demi kepentingan agama dan
bangsa. Banyak murid-muridnya
yang di belakang hari menjadi
ulama, misalnya K.H. Hasyim
Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri
Muhammadiyah), K.H. Khalil
Bangkalan, K.H. Asnawi Kudus, K.H.
Tb. Bakrie Purwakarta, K.H.
Arsyad Thawil, dan lain-lainnya. Konon, K.H. Hasyim Asy’ari saat
mengajar santri-santriny a di Pesantren Tebu Ireng sering
menangis jika membaca kitab fiqih
Fath al-Qarîb yang dikarang oleh
Syaikh Nawawi.
Kenangan
terhadap gurunya itu amat
mendalam di hati K.H. Hasyim Asy’ari hingga haru tak kuasa
ditahannya setiap kali baris Fath
al-Qarib ia ajarkan pada santri-
santriny a. Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi
menikah dengan Nyai Nasimah,
gadis asal Tanara, Banten dan
dikaruniai 3 anak: Nafisah,
Maryam, Rubi’ah. Sang istri
wafat mendahului beliau.[3] Gelar-Gelar Berkat kepakarannya, beliau
mendapat bermacam-macam
gelar. Di antaranya yang
diberikan oleh Snouck Hourgronje,
yang menggelarinya sebagai
Doktor Ketuhanan. Kalangan Intelektual masa itu juga
menggelarinya sebagai al-Imam
wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh
dan pakar dengan pemahaman
yang sangat mendalam). Syaikh
Nawawi bahkan juga mendapat gelar yang luar biasa sebagaia al-
Sayyid al-‘Ulama al-Hijâz (Tokoh
Ulama Hijaz). Yang dimaksud
dengan Hijaz ialah Jazirah Arab
yang sekarang ini disebut Saudi
Arabia. Sementara para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai
Bapak Kitab Kuning Indonesia.
Karya-Karya dan Karamah
Karya-Karya Kepakaran beliau tidak diragukan
lagi. Ulama asal Mesir, Syaikh
‘Umar ‘Abdul Jabbâr dalam
kitabnya “al-Durûs min Mâdhi al-
Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil
al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang
Pendidikan Masa kini di Masjidil
Haram) menulis bahwa Syaikh
Nawawi sangat produktif menulis
hingga karyanya mencapai
seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula
karyanya yang berupa syarah
atau komentar terhadap kitab-
kitab klasik. Sebagian dari karya-
karya Syaikh Nawawi di
antaranya adalah sebagai berikut: al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-
Riyâdl al-Badî’ah
al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath
al-Mubîn
Sullam al-Munâjah syarah Safînah
al-Shalâh Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah
al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-
Fiqh wa al-Tasawwuf
al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-
Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-
Mujîb Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah
al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah
Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
Nashâih al-‘Ibâd syarah al-
Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah
Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
Qâmi’u al-Thugyân syarah
Mandhûmah Syu’bu al-Imân
al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al- Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ
mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh
Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an
Majîd
Kasyf al-Marûthiyyah syarah
Matan al-Jurumiyyah Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah
syarah Nadham al-Jurumiyyah
musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah
al-Musammâh bi ‘Aqîdah
al-‘Awwâm Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah
Lubâb al-Hadîts
Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid
al-Barzanji
Targhîb al-Mustâqîn syarah
Mandhûmah Maulid al-Barzanjî Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah
Maulid Syarif al-‘Anâm
Fath al-Majîd syarah al-Durr al-
Farîd
Tîjân al-Darâry syarah Matan al-
Baijûry Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar
al-Khathîb
Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq
syarah Sulam al-Taufîq
Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah
al-Najâ al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah
al-Syu’b al-Îmâniyyah
‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq
al-Zaujain
Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî
al-Laits Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah
fi Tauhîd
al-Naĥjah al-Jayyidah syarah
Naqâwah al-‘Aqîdah
Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-
Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-
Rahman
al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-
Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-
Tashrîfiyyah al-Riyâdl al-Fauliyyah
Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-
Atamma fi Tabwîb al-Hukm
Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-
Barâĥîn fi al-Tauhîd
al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-
Adnâny
Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah
Maulid Sayyid al-Anâm
al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah
al-Khashâish al-Nabawiyyah Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.
[4] Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat
monumental, bahkan ada yang
mengatakan lebih baik dari Tafsîr
Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-
Suyûthi dan Imâm Jalâluddîn al-
Mahâlli yang sangat terkenal itu. Sementara Kâsyifah al-Sajâ
syarah merupakan syarah atau
komentar terhadap kitab fiqih
Safînah al-Najâ, karya Syaikh
Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy.
Para pakar menyebut karya beliau lebih praktis ketimbang
matan yang dikomentarinya.
Karya-karya beliau di bidang Ilmu
Akidah misalnya Tîjân al-Darâry,
Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd.
Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul.
Karya-karya beliau di bidang Ilmu
Fiqih yakni Sullam al-Munâjah,
Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah al-Sajâ.
Adapun Qâmi’u al-Thugyân,
Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al- Raghibi merupakan karya
tasawwuf. Ada lagi sebuah kitab
fiqih karya beliau yang sangat
terkenal di kalangan para santri
pesantren di Jawa, yaitu Syarah
’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Hampir semua
pesantren memasukkan kitab ini
dalam daftar paket bacaan wajib,
terutama di Bulan Ramadhan.
Isinya tentang segala persoalan
keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami
dan istri dijelaskan secara rinci.
Kitab yang sangat terkenal ini
menjadi rujukan selama hampir
seabad. Tapi kini, seabad
kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh
kalangan muslimah. Mereka menilai
kandungan kitab tersebut sudah
tidak cocok lagi dengan
perkembangan masa kini. Tradisi
syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya
beliau, tentulah tidak mengurangi
kualitas kepakaran dan
intelektual beliau.[5]
Karamah Konon, pada suatu waktu pernah
beliau mengarang kitab dengan
menggunakan telunjuk beliau
sebagai lampu, saat itu dalam
sebuah perjalanan. Karena tidak
ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung
unta, yang beliau diami,
sementara aspirasi tengah
kencang mengisi kepalanya.
Syaikh Nawawi kemudian berdoa
memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat
menjadi lampu menerangi jari
kanannya yang untuk menulis.
Kitab yang kemudian lahir dengan
nama Marâqi al-‘Ubudiyyah
syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar beliau dengan
cacat pada jari telunjuk kirinya.
Cahaya yang diberikan Allah pada
jari telunjuk kiri beliau itu
membawa bekas yang tidak
hilang. Karamah beliau yang lain juga diperlihatkanny a di saat mengunjungi salah satu masjid di
Jakarta yakni Masjid Pekojan.
Masjid yang dibangun oleh salah
seorang keturunan cucu
Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin
‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang
ibukota Jakarta),[6] itu ternyata
memiliki kiblat yang salah. Padahal
yang menentukan kiblat bagi
mesjid itu adalah Sayyid Utsmân
sendiri. Tak ayal , saat seorang anak
remaja yang tak dikenalnya
menyalahkan penentuan kiblat,
kagetlah Sayyid Utsmân.
Diskusipun terjadi dengan seru
antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat
Mesjid Pekojan sudah benar.
Sementara Syaikh Nawawi remaja
berpendapat arah kiblat mesti
dibetulkan. Saat kesepakatan tak
bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya
dengan keras, Syaikh Nawawi
remaja menarik lengan baju
lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan
tubuhnya agar bisa saling
mendekat. “ “Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah
tempat Kiblat kita. Lihat dan
perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah
itu terlihat amat jelas?
Sementara Kiblat masjid ini agak
kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat
menghadap ke Ka΄bah”. Ujar
Syaikh Nawawi remaja. ” Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah
yang ia lihat dengan mengikuti
telunjuk Syaikh Nawawi remaja
memang terlihat jelas. Sayyid
Utsmân merasa takjub dan
menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini
telah dikaruniai kemuliaan, yakni
terbukanya nur basyariyyah.
Dengan karamah itu, di manapun
beliau berada Ka΄bah tetap
terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk
tubuh kecil beliau. Sampai saat ini,
jika kita mengunjungi Masjid
Pekojan akan terlihat kiblat
digeser, tidak sesuai aslinya.[7] Telah menjadi kebijakan
Pemerintah Arab Saudi bahwa
orang yang telah dikubur selama
setahun kuburannya harus digali.
Tulang belulang si mayat
kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat
lainnya. Selanjutnya semua tulang
itu dikuburkan di tempat lain di
luar kota. Lubang kubur yang
dibongkar dibiarkan tetap
terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti.
Kebijakan ini dijalankan tanpa
pandang bulu. Siapapun dia,
pejabat atau orang biasa,
saudagar kaya atau orang miskin,
sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam
Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya
genap berusia satu tahun,
datanglah petugas dari
pemerintah kota untuk menggali
kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para
petugas kuburan itu tak
menemukan tulang belulang
seperti biasanya. Yang mereka
temukan adalah satu jasad yang
masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-
tanda pembusukan seperti
lazimnya jenazah yang telah lama
dikubur. Bahkan kain putih kafan
penutup jasad beliau tidak sobek
dan tidak lapuk sedikitpun. Terang saja kejadian ini
mengejutkan para petugas.
Mereka lari berhamburan
mendatangi atasannya dan
menceritakan apa yang telah
terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari
bahwa makam yang digali itu
bukan makam orang
sembarangan. Langkah strategis
lalu diambil. Pemerintah melarang
membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan
kembali seperti sediakala. Hingga
sekarang makam beliau tetap
berada di Ma΄la, Mekah. Demikianlah karamah Syaikh
Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah
organisme yang hidup di dalamnya
sedikitpun tidak merusak jasad
beliau. Kasih sayang Allah Ta’ala
berlimpah pada beliau. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi
akan kita rasakan saat kita
membuka lembar demi lembar
Tafsîr Munîr yang beliau karang.
Kitab Tafsir fenomenal ini
menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt.
Begitu juga dari kalimat-kalimat
lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ,
yang menerangkan syariat.
Begitu pula ratusan hikmah di
dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang
akan terus menyirami umat
dengan cahaya abadi dari buah
tangan beliau.[8]
Wafat Masa selama 69 tahun
mengabdikan dirinya sebagai guru
Umat Islam telah memberikan
pandangan-panda ngan cemerlang atas berbagai masalah
umat Islam. Syaikh Nawawi wafat
di Mekah pada tanggal 25 syawal
1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula
yang mencatat tahun wafatnya
pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan
Ma’la di Mekah. Makam beliau
bersebelahan dengan makam
anak perempuan dari Sayyidina
Abu Bakar al-Siddiq, Asma΄ binti
Abû Bakar al-Siddîq.[9] Referensi ^ Nurul Huda, Sekilas tentang: Kiai
Muhammad Nawawi al-Bantani,
Alkisah, No.4, 14 September 2003
M, h. 2.
^ Salmah, dkk, Perjalanan 3
Wanita, (Jakarta: Trans TV, pukul 06:30-07:00), Selasa, 10 Juli 2007
M.
^ Kisah Wali, Alkisah, No.3, 02-15
februari 2004 M, h. 100.
^ Kiai Muhammad Syafi’i Hadzami,
Majmu’ah Tsalâtsa Kutub Mufîdah, (Jakarta, Maktabah al-
Arba’in, 2006 M/1427 H), h. J.
^ Nurul Huda, Sekilas tentang, h.
7.
^ Habib ‘Utsman bin ‘Aqil bin
‘Umar bin Yahya dilahirkan di Pekojan, Jakarta pada tanggal 17
Rabi’ul Awwal 1238 H/ 1822 M. Ibunya bernama Aminah binti
Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad
al-Mishri, putri seorang ulama
dari Mesir. Habib ‘Utsman
bermukim di Makkah selama 7
tahun. Guru-guru beliau di antaranya ayahnya sendiri, Habib
‘Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya dan
seorang Mufti Syafi’iyyah di
Makkah, Sayyid Ahmad Zaini
Dahlan. Pada tahun 1848 beliau
berangkat ke Hadramaut menuntut ilmu kepada sayyid
‘Alwi bin Saggaf al-Jufri dan
Sayyid Hasan bin Shaleh al-Bahr.
Dari Hadramaut berangkat lagi ke
Mesir dan belajar di Kairo selama
8 bulan. Perjalanan menuntut ilmu dilanjutkan lagi ke Tunis, Aljazair,
Istanbul, Persia dan Syria. Setelah
itu beliau kembali lagi ke
Hadramaut. Habib ‘Utsman adalah
pengarang kitab yang sangat
produktif. Hal ini dikemukakan oleh L.W.C Van Den Berg
(1845-1927) di dalam bukunya
yang telah diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia dengan
judul Hadramaut dan koloni Arab
di Indonesia (1989). Ia telah mencatat bahwa Habib ‘Utsman
memiliki 38 karya, 11 buah
karyanya ditulis dalam Bahasa
Arab, sedang sisanya disusun
dalam Bahasa Melayu. Buku
tersebut diterbitkan di Betawi pada tahun 1886 M, ketika itu
Habib ‘Utsman masih hidup dan
masih terus menghasilkan karya-
karyanya. Beliau pada tahun 1862
M/ 1279 H selepas dari
hadramaut pulang ke Betawi dan menetap di Pekojan. Kemudian
diangkat menjadi Mufti Betawi
menggantikan Syaikh Abdul Ghani.
Hingga wafat pada tahun 1331 H/
1913 M. “Sekilas tentan Habib
‘Utsman”, Alkisah, No. 3, 02-15 februari 2004 M, h. 108.
^ Kisah Wali, Alkisah, h. 103.
^ Syekh Nawawi Bantani: Mulianya
jasad sang wali, Alkisah, No. 3,
02-15 Februari 2004 M, h. 105.
^ Nurul Huda, Sekilas tentang, h. 5. —

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

  • My Twitter

    • @indosat saya daftar paket opmin m3, tapi sisa pulsanya terus d ambl sampai hbs, ada solusi...?Follow this 2 years ago
    • katanya takan ada pemadaman d bln puasa, eh ternyata gelap terus @plnFollow this 2 years ago
    • beli paket opera mini di m3, sisa pulsanya d ambil terus hingga abis,licik @indosatFollow this 2 years ago
    • berdoalah sebelum tidur.....,Follow this 3 years ago
    • selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, tak terkecuali pada musibah @kaka_trikshareFollow this 3 years ago
  • Blog Stats

    • 8,925 hits

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...