Uncategorized

MENDIDIK ANAK DENGAN HIKMAH (2) [SURITAULADAN]

Posted on Oktober 29, 2013. Filed under: Uncategorized |

DALAM MENDIDIK ANAK, tentu kita berharap anak kita menjadi anak yang baik dan soleh/solehah, tentu hal ini tidak akan tercapai apabila kita dalam mendidik anak tidak memberikan contoh dan suritauladan yang baik terhadap anak itu. Jadi jika kita berharap anak kita soleh maka kita harus terlebih dulu menjadi orang yang soleh, agar anak kita meniru kelakuan yang ada pada diri kita. Walaupun faktor hidayah pun sangat menentukan, tapi sangatlah tidak logis bila kita berharap punya anak yang soleh tanpa kita memberikan contoh yang soleh.
Peribahasa mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Maksudnya, perilaku seorang anak umumnya tidak akan jauh berbeda dari perilaku orang tuanya. Ringkas kata, orang tua yang baik biasanya melahirkan anak yang baik. Demikian pula sebaliknya, anak yang durhaka biasanya lahir dari orang tua yang durhaka pula.

Dalam istilah lain, orang tua bisa diibaratkan mata air dan anak laksana aliran sungainya. Maksud dari perumpamaan ini, mata air yang bersih akan mengalirkan air yang jernih. Sementara, mata air yang kotor tentu mengalirkan air yang keruh. Itulah hukum alam alias sunnatullah yang berlaku di jagat raya ini.

Dari sejarah kita mendapatkan informasi seputar sosok-sosok orang tua saleh yang juga memiliki anak-anak saleh. Sebut saja, misalnya, Nabi Ibrahim (1997-1822 SM) yang memiliki putra Nabi Ismail (1911-1774 SM) dan Nabi Ishak (1897-1717 SM), Nabi Ya’kub (1837-1690 SM) memiliki putra Nabi Yusuf (1745-1635 SM), Nabi Daud (1041-971 SM) memiliki putra Nabi Sulaiman (989-931 SM), dan Nabi Zakaria (91 SM-1 M) memiliki putra Nabi Yahya (31 SM-1 M).

Kendati demikian, realitas sejarah juga menunjukkan bahwa peribahasa yang sudah sekian lama kita amini itu tidak mutlak kebenarannya. Fakta demikian dikonfirmasi oleh praktik keseharian kita. Bahkan, Al-Qur’an sendiri banyak bercerita tentang beberapa orang tua yang sangat taat tetapi justru melahirkan anak-anak yang luar biasa jahat. Dengan demikian, Al-Qur’an seolah menegaskan kepada kita bahwa buah memang bisa saja jatuh jauh dari pohonnya.

Simak kisah Qabil, putra sulung Nabi Adam (5872-4942 SM). Meski putra kandung seorang utusan Allah yang mulia, pembunuhan pertama dalam sejarah manusia justru dilakukan Qabil. Kedengkian telah mendorongnya tega menghabisi adik kandungnya, Habil. Melihat kurban kambing milik Habil diterima Allah sementara kurban gandumnya ditolak, muncul amarah di hati Qabil. Ditambah keputusan sang ayah untuk menikahkan dirinya dengan Labuda yang jelek, sementara Habil dengan Iklima yang molek, dendamnya semakin membara. Bulat sudah hatinya untuk melenyapkan nyawa Habil yang sama sekali tidak berdosa.

“…ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Habil berkata, sungguh Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sungguh aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam’.” [QS Al-Maidah: 27-28].

Kisah serupa juga terjadi pada Kan’an, putra sulung Nabi Nuh (3993-3043 SM). Menurut Salim Bahreisyi, Nabi Nuh adalah keturunan Nabi Adam yang kesembilan dan merupakan Nabi keempat sesudah Nabi Adam, Nabi Syits (3630-2718 SM), dan Nabi Idris (4533-4188 SM). Ayahnya bernama Lamik bin Metusyalih bin Idris. Tidak kurang 950 tahun, Nabi Nuh mengajak kaumnya kepada ajaran tauhid. Meski siang dan malam berdakwah dalam durasi waktu sepanjang itu, jumlah pengikut Nabi Nuh hanya 70 orang dan delapan anggota keluarganya.

Ironisnya, para penentang Nabi Nuh bukan hanya dari orang luar, melainkan juga putra kandungnya sendiri, Kan’an. Kedurhakaan Kan’an sungguh antitesis dari ketaatan sang ayah. Bahkan, Kan’an masih kukuh pada pendiriannya ketika Allah sudah menurunkan azab berupa banjir dahsyat. Dia tetap ogah turut dalam rombongan kapal Nabi Nuh. Berulang kali Nabi Nuh memanggilnya, tetapi Kan’an memilih untuk menaiki gunung tertinggi yang dipikirnya dapat menyelamatkan dirinya dari luapan banjir bandang itu.

Seketika tubuh Kan’an disambar gelombang ganas, sehingga lenyap dari pandangan mata ayahnya. Timbullah naluri kebapakan Nabi Nuh. Seraya menanggung duka, Nabi Nuh mengadukan keluh kesah kepada Allah. Tetapi, Allah menjawabnya dengan perintah supaya dia mencoret Kan’an dari daftar nama keluarganya, karena telah menyimpang dari ajaran kebenaran. Kedukaan Nabi Nuh itu direkam dengan jelas dalam Al-Qur’an.

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh anakku itu termasuk keluargaku, dan sungguh janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya’. Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sungguh dia bukanlah termasuk keluargamu. Sungguh (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sungguh Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan’.” [QS Hud: 45-46].

Kisah Al-Qur’an berhenti di situ. Dibeberkan pula kisah-kisah seputar sosok terhormat yang justru lahir dari orang tua terlaknat. Lihatlah Nabi Ibrahim. Nabi dan Rasul keenam yang dilahirkan di sebuah tempat bernama Faddam A’ram di wilayah Babilonia itu dikenal sebagai Abu Al-Anbiya’ (Bapak Para Nabi). Di negeri yang subur dan makmur itu, Nabi Ibrahim berdakwah kepada para penyembah berhala yang dikomandani Namrud bin Kan’an bin Kusi (2275-1943 SM), penguasa Babilonia kala itu. Nabi Ibrahim bahkan satu-satunya orang yang berani menghancurkan patung-patung berhala yang menjadi sesembahan penduduk negerinya.

Putra siapa gerangan Nabi Ibrahim yang tangguh dan gagah berani itu? Azar bin Nahur, begitulah nama ayahnya. Dia adalah seorang pemahat dan penjual patung berhala. Melihat kegigihan Nabi Ibrahim memberangus patung-patung berhalanya, tentu saja Azar marah hebat. Nabi Ibrahim kerap menerima cemoohan, kekasaran, bahkan pengusiran dari ayahnya. Al-Qur’an mengisahkan betapa dakwah santun dari Nabi Ibrahim kepada ayahnya disambut dengan cacian dan sumpah serapah.

“…‘Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun. Wahai Bapakku, sungguh telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai Bapakku, jangan engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai Bapakku, sungguh aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan setan’. Bapaknya berkata, ‘Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, Wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama’.” [QS Maryam: 42-46].

Keteguhan akidah Nabi Ibrahim jelas bertolak punggung dengan kemusyrikan ayah kandungnya. Persis kisah Nabi Musa (1527-1407 SM). Meski bukan anak kandung Fir’aun (1232-1224 SM), namun Nabi Musa telah dipungut raja durjana bernama Minephtah itu selama 18 tahun. Pertama melihat peti berisi bayi lelaki yang dipungut pembantunya dari sungai Nil itu, Fir’aun segera memerintahkan orang untuk membunuhnya. Tetapi, Fir’aun tidak mampu berbuat banyak, karena permaisurinya, Asiah, sangat menyayangi bayi mungil yang merupakan putra Yukabad itu. Sekali-kali tidak terlintas di benak Fir’aun bahwa kekejaman dan kepongahannya kelak akan berakhir di tangan seorang bayi yang justru diasuh dan dibesarkan dalam istananya.

Itulah kenapa ketika Nabi Musa dan Nabi Harun (1531-1408 SM) mendatangi Fir’aun untuk menyampaikan risalah dakwah dan membebaskan Bani Israil dari kekejamannya, Fir’aun tampak begitu geram. Dia merasa selama ini telah membesarkan anak singa yang kini bersiap menerkam dirinya. Kemarahan Fir’aun ini telah dikisahkan Allah dalam Al-Quran.

“Fir’aun menjawab, ‘Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu, dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna’.” [QS Asy-Syuara: 18-19].

Makna dari semua kisah di atas tentu saja keimanan merupakan hidayah dari Allah semata, bukan warisan dari nenek moyang. Kewajiban kita adalah terus berusaha dan berdoa, agar menjadi pribadi beriman sekaligus sanggup melahirkan generasi yang juga beriman kepada Allah. Semoga kita semua termasuk golongan hamba Allah yang selamat di dunia ini dan akhirat nanti.

Sumber : Republika

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

MENDIDIK ANAK DENGAN HIKMAH

Posted on September 3, 2013. Filed under: Uncategorized | Tag:, , , , |

Anak adalah anugrah, dan juga amanat dan amanat itu akan diminta pertanggungjawabanya kelak di akherat yang apabila kita tidak bertanggung jawab terhadap amanat itu maka anak itu akan berubah menjadi fitnah yang pada akhirnya akan mencelakakan kita, baik didunia bahkan di akherat kelak.
Diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya dan merupakan hak bagi si anak yaitu “mendidik anak” sebab didikan orang tua sangat menetukan akan masa depan anak mau jadi apa kelak anak itu tergantung didikan yang diberikan terhadap anak itu, benar apa yang di sabdakan Rosullulh solallohu alaihi wasalam “setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, dalam fitrahnya tunduk terhadap perintah Alloh) dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia sebagai yahudi atau nasroni atau majusi”, maka kunci utama agar seorang anak yang dianugrahkan kepada kita tidak menjadi fitnah didunia apalagi di akherat yang pertamakali harus dilakukan orangtua terhadap anaknya adalah mendidik mendidik putra putrinya,yang tentunya didikan itu disesuaikan dengan tujuan kita mau jadi apa kelak anak itu, sebagai contoh jika kita mengharapkan anak kita kelak menjadi seorang saudagar yang sukses maka mesti anak itu di beri didikan yang akan menjadi bekal bagi anak itu untuk berdagang, begitu pula jika kita mengharapkan anak kita menjadi anak yang soleh, yang bertakwa dll. (bersambung…….Insya Alloh)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi!

Posted on Juni 17, 2013. Filed under: Uncategorized |

Dahulu, wilayah bangsa Indonesia pernah menguasai lebih 2/3 Muka Bumi!.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

DIALOG IMAM ABU HANIFAH DENGAN ATEIST

Posted on Mei 10, 2012. Filed under: Uncategorized |

Imam Abu Hanifah R.A Menangkis Serangan Para Atheis
I. Kapan Allah itu ada? Atheis :Pada tahun berapa Robbmu dilahirkan?
Abu Hanifah :Allah berfirman: “Dia (Allah) tidak melahirkan dan tidak dilahirkan.”
Atheis :Pada tahun berapa Dia berada?
Abu Hanifah :Dia berada sebelum adanya sesuatu.
Atheis :Kami mohon diberi contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka empat?
Atheis :Angka Tiga
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka tiga?
Atheis :Angka dua
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka dua?
Atheis :Angka satu
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka satu? Atheis :Tidak ada angka (nol). Abu Hanifah :Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa kalian heran kalau sebelum Allah Yang Maha Satu yang hakiki, tidak ada yang mendahului-Nya?
II. Maksud Allah Menghadap Wajahnya Atheis: Kemana Robbmu menghadapkan wajahnya? Abu Hanifah: Kalau kalian membawa lampu di gelap malam,kemana lampu itu menghadapkan wajahnya? Atheis: Ke seluruh penjuru. Abu Hanifah: Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Alloh Ta’ala, nur cahaya langit dan bumi?.
III. Zat Allah SWT Atheis: Tunjukkan kepada kami tentang zat Robbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas? Abu Hanifah: Pernahkah kalian mendampingi orang sakit yang akan meninggal? Atheis: Ya, pernah. Abu Hanifah: Semula ia berbicara dengan kalian dan mengge rak- gerakkan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam dan tidak bergerak. Nah apa yang menimbulkan perubahan itu? Atheis: Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya. Abu Hanifah: Apakah waktu keluarnya roh itu kalian masih ada disana? Atheis: Ya, kami masih ada Abu Hanifah:Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat, seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas? Atheis: Entahlahlah kami tidak tahu. Abu Hanifah: Kalau kalian tidak bisa mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana kalian bisa memaksaku untuk mengutarakan zat Alloh Ta’ala?!!
IV. Dimana Allah SWT Atheis: Dimana kira-kira Robbmu itu berada? Abu Hanifah: Kalau kami membawa segelas susu segar ke sini, apakah kalian yakin kalau dalam susu itu terdapat zat minyaknya (lemak) Atheis: Tentu Abu Hanifah: Tolong perlihatkan padaku, dimana adanya Zat minyak itu Atheis: Membaur dalam seluruh bagiannya Abu Hanifah: Kalau minyak yang makhluk itu tidak mempunyai tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak kalian meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Alloh ta ‘ala?
V. Takdir Allah SWT Atheis: Kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, lalu apa kegiatan Robbmu kini? Abu Hanifah: Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan Atheis: Kalau orang masuk syurga ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya? Abu Hanifah: Hitungan angka pun ada awalnya tapi tidak ada akhirnya Atheis: Bagaimana kita bisa makan dan minum disyurga tanpa buang air besar dan kecil? Abu Hanifah: Kalian sudah mempraktekkannya ketika kalian berada di dalam perut ibu kalian. Hidup dan makan-minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita lakukan hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia. Atheis: Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dengan dinafkahkan? Abu Hanifah: Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak,seperti ilmu. Semakin diberikan ilmu kita semakin berkembang dan tidak berkurang.
VI. Bukti Adanya Allah
Atheis: Perlihatkan bukti keberadaan Robbmu kalau memang dia ada Abu Hanifah ra berbisik kepada khadamnya agar mengambil tanah liat, lalu dilemparkannya tanah liat itu ke kepala pemimpin orang atheis itu . Para hadirin gelisah melihat peristiwa itu, khawatir terjadi keributan, tetapi Abu Hanifah menjelaskan bahwa hal ini dalam rangka untuk menjelaskan jawaban yang di minta kepadanya. Hal ini membuat orang atheis mengenyitkan dahi, Abu Hanifah: Apakah lemparan itu menimbulkan rasa sakit di kepala anda? Atheis: Ya, tentu saja. abu hanifah: Dimana letak sakitnya? Atheis: Ya, ada pada luka ini. Abu Hanifah: Tunjukkanlah padaku bahwa sakitnya itu memang ada, baru akan menunjukkan kepadamu dimana Robbku! Orang atheis itu tidak menjawab tentu saja tidak bisa menunjukkan rasa sakitnya, karena itu adalah suatu rasa dan ghaib tapi rasa sakit itu memang ada. Atheis: Baik dan buruk sudah ditakdirkan sejak azal, tetapi kenapa ada pahala dan siksa? Abu hanifah: Kalau anda sudah mengerti bahwa baik dan buruk itu bagian takdir, mengapa anda kini menuntut aku agar di hukum karena melempar tanah liat ke dahi anda? bukankah perbuatan itu bagian dari takdir? Akhirnya perdebatan itu berakhir dengan masuk Islamnya para atheis tersebut di tangan Al Imam abu hanifah radhiallahu. (sumber pasarmuslim.com)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Membedakan Antara Mani, Madi, Wadi, Air Seni

Posted on Mei 9, 2012. Filed under: fiqih, Uncategorized |

Perbedaan antara keempat perkara di atas? Mengetahui hal ini adalah hal yang sangat penting, khususnya perbedaan antara mani dan madzi, karena masih banyak di kalangan kaum muslimin yang belum bisa membedakan antara keduanya. Yang karena ketidaktahuan mereka akan perbedaannya menyebabkan mereka ditimpa oleh fitnah was- was dan dipermainkan oleh setan. Sehingga tidaklah ada cairan yang keluar dari kemaluannya (kecuali kencing dan wadi) yang membuatnya ragu-ragu kecuali dia langsung mandi, padahal boleh jadi dia hanyalah madzi dan bukan mani. Sudah dimaklumi bahwa yang menyebabkan mandi hanyalah mani, sementara madzi cukup dicuci lalu berwudhu dan tidak perlu mandi untuk menghilangkan hadatsnya. Karenanya berikut definisi dari keempat cairan di atas, yang dari definisi tersebut bisa dipetik sisi perbedaan di antara mereka:
1. Kencing: Masyhur sehingga tidak perlu dijelaskan, dan dia najis berdasarkan Al-Qur`an, Sunnah, dan ijma’.
2. Wadi: Cairan tebal berwarna putih yang keluar setelah kencing atau setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan, misalnya berolahraga berat. Wadi adalah najis berdasarkan kesepakatan para ulama sehingga dia wajib untuk dicuci. Dia juga merupakan pembatal wudhu sebagaimana kencing dan madzi.
3. Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.
4. Mani: Cairan tebal yang baunya seperti adonan tepung, keluar dengan terpancar sehingga terasa keluarnya, keluar ketika jima’ atau ihtilam (mimpi jima’) atau onani -wal ‘iyadzu billah-, dan tubuh akan terasa lelah setelah mengeluarkannya. Berhubung kencing dan wadi sudah jelas kapan waktu keluarnya sehingga mudah dikenali, maka berikut kesimpulan perbedaan antara mani dan madzi: a. Madzi adalah najis berdasarkan ijma’, sementara mani adalah suci menurut pendapat yang paling kuat. b. Madzi adalah hadats ashghar yang cukup dihilangkan dengan wudhu, sementara mani adalah hadats akbar yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub. c. Cairan madzi lebih tipis dibandingkan mani. d. Mani berbau, sementara madzi tidak (yakni baunya normal). e. Mani keluarnya terpancar, berbeda halnya dengan madzi. Allah Ta’ala berfirman tentang manusia, “Dia diciptakan dari air yang terpencar.” (QS. Ath- Thariq: 6) f. Mani terasa keluarnya, sementara keluarnya madzi kadang terasa dan kadang tidak terasa. g. Waktu keluar antara keduanyapun berbeda sebagaimana di atas. h. Tubuh akan melemah atau lelah setelah keluarnya mani, dan tidak demikian jika yang keluar adalah madzi. Karenanya jika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan mendapatkan ada cairan di celananya, maka hendaknya dia perhatikan ciri-ciri cairan tersebut, berdasarkan keterangan di atas. Jika dia mani maka silakan dia mandi, tapi jika hanya madzi maka hendaknya dia cukup mencuci kemaluannya dan berwudhu. Berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- bahwa Nabi – alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang orang yang mengeluarkan madzi: “Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah kamu.” (HR. Al- Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303) [Update: Anas bin Malik – radhiallahu anhu- berkata: “Bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi.” Ummu Sulaim berkata, “Maka aku menjadi malu karenanya”. Ummu Sulaim kembali bertanya, “Apakah keluarnya mani memungkinkan pada perempuan?” Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Manapun mani dari salah seorang mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya.” (HR. Muslim no. 469) Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (3/222), “Hadits ini merupakan kaidah yang sangat agung dalam menjelaskan bentuk dan sifat mani, dan apa yang tersebut di sini itulah sifatnya di dalam keadaan biasa dan normal. Para ulama menyatakan: Dalam keadaan sehat, mani lelaki itu berwarna putih pekat dan memancar sedikit demi sedikit di saat keluar. Biasa keluar bila dikuasai dengan syahwat dan sangat nikmat saat keluarnya. Setelah keluar dia akan merasakan lemas dan akan mencium bau seperti bau mayang kurma, yaitu seperti bau adunan tepung. Warna mani bisa berubah disebabkan beberapa hal di antaranya: Sedang sakit, maninya akan berubah cair dan kuning, atau kantung testis melemah sehingga mani keluar tanpa dipacu oleh syahwat, atau karena terlalu sering bersenggama sehingga warna mani berubah merah seperti air perahan daging dan kadangkala yang keluar adalah darah.”] Tambahan: 1. Mandi junub hanya diwajibkan saat ihtilam (mimpi jima’) ketika ada cairan yang keluar. Adapun jika dia mimpi tapi tidak ada cairan yang keluar maka dia tidak wajib mandi. Berdasarkan hadits Abu Said Al- Khudri secara marfu’: “Sesungguhnya air itu hanya ada dari air.” (HR. Muslim no. 343) Maksudnya: Air (untuk mandi) itu hanya diwajibkan ketika keluarnya air (mani). 2. Mayoritas ulama mempersyaratkan wajibnya mandi dengan adanya syahwat ketika keluarnya mani -dalam keadaan terjaga. Artinya jika mani keluar tanpa disertai dengan syahwat -misalnya karena sakit atau cuaca yang terlampau dingin atau yang semacamnya- maka mayoritas ulama tidak mewajibkan mandi junub darinya. Berbeda halnya dengan Imam Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm yang keduanya mewajibkan mandi junub secara mutlak bagi yang keluar mani, baik disertai syahwat maupun tidak. Wallahu a’lam. Demikian sekilas hukum dalam masalah ini, insya Allah pembahasan selengkapnya akan kami bawakan pada tempatnya(al-atsariyyah.com/)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Hukum sms,Chating,Fb dll dgn bukan mahram

Posted on Mei 1, 2012. Filed under: Uncategorized |

Sebagaimana yang kita maklumi bahawa, komunikasi dengan tulisan melalui jaringan internet atau yang lebih dikenal dengan ‘chatting’ baru muncul dan popular beberapa tahun terakhir. Yaitu, tepatnya setelah ditemui jaringan internet. Karena itu dalam kitab-kitab ulama terdahulu khususnya buku fiqh, istilah ini tidak akan ditemui. Namun asas bagi hukum ‘chatting’ ini sebenarnya sudah dibahas oleh ulama, jauh sebelum jaringan internet ditemukan. ‘Chatting’ dengan lawan jenis yang bukan mahram sama halnya dengan berbicara melalui telepon, SMS, dan berkiriman surat. Semuanya ada persamaan. Iaitu sama-sama berbicara antara lawan jenis yang bukan mahram. Persamaan ini juga mengandung adanya persamaan hukum. Karena itu, ada dua perkara berkaitan yang perlu kita bahas sebelum kita lebih jauh membicarakan hukum ‘chatting’ itu sendiri. Pertama, adalah hukum bicara dengan lawan jenis yang bukan mahram. Kedua, adalah hukum khalwat. Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada dasarnya tidak dilarang apabila pembicaraan itu memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh syara’. Seperti pembicaraan yang mengandungi kebaikan, menjaga adab-adab kesopanan, tidak menyebabkan fitnah dan tidak khalwat. Begitu jika hal yang penting atau berhajat umpamanya hal jual beli, kebakaran, sakit dan seumpamanya maka tidaklah haram. Dalam sejarah kita lihat bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW berbicara dengan para sahabat, ketika menjawab pertanyaan yang mereka ajukan tentang hukum agama. Bahkan ada antara isteri Nabi SAW yang menjadi guru para sahabat selepas wafatnya baginda iaitu Saidatina Aisyah RA. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman yang artinya: “Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. al-Ahzab: 32) Imam Qurtubi menafsirkan kata ’Takhdha’na’ (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita. Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata- kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik. Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata- kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan. Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa- biasa saja. Adapun khalwat, hukumnya dilarang dalam agama Islam. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Khalwat adalah perbuatan menyepi yang dilakukan oleh laki- laki dengan perempuan yang bukan mahram dan tidak diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini dilarang karena ia dapat menyebabkan atau memberikan peluang kepada pelakunya untuk terjatuh dalam perbuatan yang dilarang. Kerana ada sabda Nabi SAW bermaksud: “Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya.” (Hadis Sahih) Khalwat bukan saja dengan duduk berduaan. Tetapi berbual- bual melalui telepon di luar keperluan syar’i juga dikira berkhalwat. Karena mereka sepi dari kehadiran orang lain, meskipun fisikal mereka tidak berada dalam satu tempat. Namun melalui telepon mereka lebih bebas membicarakan apa saja selama berjam-jam tanpa merasa dikawal oleh sesiapa Dan haram juga ialah perkara- perkara syahwat yang membangkitkan hawa nafsu contohnya yang berlaku pada kebanyakkan muda-mudi atau remaja-remaja sekarang dimana sms atau email atau Facebook atau seumpamanya menjadi alat untuk memadu kasih yang memuaskan nafsu di antara pasangan dan masing-masing melunaskan keinginan dan keseronokkan semata-mata. Membincangkan perkara-perkara lucah lebih-lebih lagi hukumnya adalah haram.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Hukum sms,Chating,Fb dll dgn bukan mahram

Posted on Mei 1, 2012. Filed under: Uncategorized |

Sebagaimana yang kita maklumi bahawa, komunikasi dengan tulisan melalui jaringan internet atau yang lebih dikenal dengan ‘chatting’ baru muncul dan popular beberapa tahun terakhir. Yaitu, tepatnya setelah ditemui jaringan internet. Karena itu dalam kitab-kitab ulama terdahulu khususnya buku fiqh, istilah ini tidak akan ditemui. Namun asas bagi hukum ‘chatting’ ini sebenarnya sudah dibahas oleh ulama, jauh sebelum jaringan internet ditemukan. ‘Chatting’ dengan lawan jenis yang bukan mahram sama halnya dengan berbicara melalui telepon, SMS, dan berkiriman surat. Semuanya ada persamaan. Iaitu sama-sama berbicara antara lawan jenis yang bukan mahram. Persamaan ini juga mengandung adanya persamaan hukum. Karena itu, ada dua perkara berkaitan yang perlu kita bahas sebelum kita lebih jauh membicarakan hukum ‘chatting’ itu sendiri. Pertama, adalah hukum bicara dengan lawan jenis yang bukan mahram. Kedua, adalah hukum khalwat. Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada dasarnya tidak dilarang apabila pembicaraan itu memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh syara’. Seperti pembicaraan yang mengandungi kebaikan, menjaga adab-adab kesopanan, tidak menyebabkan fitnah dan tidak khalwat. Begitu jika hal yang penting atau berhajat umpamanya hal jual beli, kebakaran, sakit dan seumpamanya maka tidaklah haram. Dalam sejarah kita lihat bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW berbicara dengan para sahabat, ketika menjawab pertanyaan yang mereka ajukan tentang hukum agama. Bahkan ada antara isteri Nabi SAW yang menjadi guru para sahabat selepas wafatnya baginda iaitu Saidatina Aisyah RA. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman yang artinya: “Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. al-Ahzab: 32) Imam Qurtubi menafsirkan kata ’Takhdha’na’ (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita. Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata- kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik. Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata- kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan. Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa- biasa saja. Adapun khalwat, hukumnya dilarang dalam agama Islam. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Khalwat adalah perbuatan menyepi yang dilakukan oleh laki- laki dengan perempuan yang bukan mahram dan tidak diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini dilarang karena ia dapat menyebabkan atau memberikan peluang kepada pelakunya untuk terjatuh dalam perbuatan yang dilarang. Kerana ada sabda Nabi SAW bermaksud: “Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya.” (Hadis Sahih) Khalwat bukan saja dengan duduk berduaan. Tetapi berbual- bual melalui telepon di luar keperluan syar’i juga dikira berkhalwat. Karena mereka sepi dari kehadiran orang lain, meskipun fisikal mereka tidak berada dalam satu tempat. Namun melalui telepon mereka lebih bebas membicarakan apa saja selama berjam-jam tanpa merasa dikawal oleh sesiapa Dan haram juga ialah perkara- perkara syahwat yang membangkitkan hawa nafsu contohnya yang berlaku pada kebanyakkan muda-mudi atau remaja-remaja sekarang dimana sms atau email atau Facebook atau seumpamanya menjadi alat untuk memadu kasih yang memuaskan nafsu di antara pasangan dan masing-masing melunaskan keinginan dan keseronokkan semata-mata. Membincangkan perkara-perkara lucah lebih-lebih lagi hukumnya adalah haram.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

KONSPIRASI DIBALIK SAIN MODEREN

Posted on Maret 13, 2012. Filed under: Uncategorized |

konspirasi dibalik sains modern,(Royal Society)
Kemajuan suatu ilmu akan
mempunyai arti apabila seorang
ilmuwan mampu
mengomunikasikan penemuannya
kepada ilmuwan- ilmuwan lainnya
melalui suatu penjelasan yang dapat dimeng- erti. Ilmu
pengetahuan tidak akan
berkembang jika para ilmuwan
mendiamkan hasil penelitiannya
dan tidak mewariskan ilmunya
kepada generasi selanjutnya. untuk menambah pengetahuan,
kali ini kita akan mengupas
tuntas profil tokoh-tokoh yang
berperan dalam pengembangan
ilmu pengetahuan.Royal Society,
ya mungkin kalian tahu kalau ini adalah kumpulan para ilmuwan
terkenal masa lalu yang berisi
Newton, Boyle, Einstein, dan
semacamnya. tapi tahukah anda
bahwa ternyata ada kospirasi
dibalik Royal Society? Invisible College, asal mula Royal
Society ya, Royal Society sebelumnya
bernama Invisible college, sebuah
perkumpulan para ilmuwan yang
berdiri di Inggris, beranggotakan
Robert Boyle, John Wilkins, John
Walls, John Evelyn, Robert Hook, Cristopher Wren dan William
Petty. dalam surat yang ditulis
oleh Boyle pada 1646 dan 1647,
Boyle menyatakan
ketertarikannya kepada “Our
Invisible College” atau seeing disebut sebagai “Our Philosophical
College”. sebuah perkumpulan
yang memiliki tujuan untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan
dengan cara Experimental
Investigation. Abad ke 17 Ideologi Invisible College menjadi
sangat berpengaruh pada abad
ke 17 di eropa. dikarenakan
Invisible College menjadi tempat
yang cocok untuk mendiskusikan
masalah ilmu pengetahuan di Eropa. Lalu apa sebenarnya alasan
sesungguhnya pendirian Invisible
College ini? kalau anda membuka buku
sejarah lebih dalam lagi, pasti
anda mengenal tokoh macam Ibnu
Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd
(Averous), dan Al Khawarizmi
(penemu Aljabar). ya, mereka adalah ilmuwan dari tanah timur
tengah yang telah hidup jauh
sebelum Invisible College ada,
yaitu pada masa Daulah
Abasiyyah. Daulah Abasiyah adalah sebuah
sistem pemerintahan di timur
tengah yang dipimpin oleh Sultan
Harun Ar-Rasyid, yang berpusat
di daerah Baghdad. pada zaman
ini ilmu pengetahuan cukup maju dan bermula dari wilayah timur
tengah. seperti Ibnu Sina, tokoh
dalam ilmu kedokteran yang
sangat terkenal, dan bahkan
disebut sebagai bapak
Kedokteran dunia lahir pada Zaman ini. beserta para
cendekiawan muslim lain yang
mencurahkan pikirannya untuk
ilmu pengetahuan. Namun, sesuatu terjadi, pada
akhir masa Daulah Abasiyah,
perpustakaan tempat para
cendekiawan muslim tersebut
menyimpan dokumen ilmu mereka,
dibumi hanguskan oleh tentara Mongol pimpinan Hulago Khan,
sehingga sejak saat itu, Ilmu
mereka hilang dari dunia
dikarenakan sumber yang sudah
hilang, baik sang penemu maupun
catatan tentang ilmunya. sehingga pada saat itu Ilmu yang
berkembang adalah ilmu tak pasti
yang didasari hanya kepada nalar
semata. Dan disaat itu pula, disaat Islam
sudah menyebar ke daerah
Eropa. para ilmuwan dari Daulah
Abasiyyah segera masuk ke
daerah Kordoba dan memulai
Renaissance, namun sama seperti yang terjad di Baghdad, mereka
ternyata mengalami infiltrasi
sehingga pengaruh kebudayaan
dan pengetahuan dari tanah
Timur Tengah terlupakan. Dan selang beberapa ratus tahun
lamanya, berdirilah Invisible
College, atau Royal Society, yang
berisi para ilmuwan Eropa yang
secara langsung “mengambil” ilmu
dari zaman Daulah Abasiyah dan mereka seenaknya mematenkan
hasil temuan para cendekiawan
muslim sehingga mereka
terlupakan dan para Royal
Society terkenal karena ilmu
yang mereka dapatkan hasil dari “mencuri”. Alasan mereka melakukan itu alasan mereka melakukannya
karena mereka ingin
menghilangkan pengaruh Islam
dari ilmu pengetahuan dunia. dan
juga ini merupakan rencana
mereka, New World Order untuk melakukan penguasaan di bidang
ilmu pengetahuan.
ini tidak mengherankan karena
ternyata presiden dari Royal
Society adalah Newton. ya Sir
Isaac Newton. mungkin dia menjadi presiden karena skala suhu
Newton adalah 33. tidak hanya itu, ternyata Royal
Society juga memiliki ilmuwan
dibidang Alkimia, Geometri, dan
Astronomi, ya ilmu yang
merupakan ilmu yang paling
diagungkan para kaum Mason. dan mungkin ini adalah alasan
mengapa mereka membentuk
perkumpulan ini. dan mereka pun terus melakukan
perekrutan anggota, dan
anggota mereka pada zaman
modern yang fenomenal adalah
Albert Einstein. ya, Abert Einstein, seorang
penemu yang penemuannya
disalah gunakan untuk tujuan
berperang, mungkin ini salah satu
program NWO. dan tokoh Royal Society yang
terkenal juga pada zaman ini
yang masih hidup dan juga
fenomenal lainnya adalah Stephen
Hawking, dia menggunakan segala
kepintarannya hanya untuk mengatakan “Tuhan tidak
berperan dalam penciptaan Alam
Semesta”. apakah ini sikap
seorang ilmuwan? mementingkan
ilmu pengetahuan dengan
melupakan Tuhan, ini tak ada bedanya dengan ideologi
Luciferian.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

APA ITU ISLAM

Posted on Maret 11, 2012. Filed under: Uncategorized |

Di antara keistimewaan agama
Islam adalah namanya. Berbeda
dengan agama lain, nama agama
ini bukan berasal dari nama
pendirinya atau nama tempat
penyebarannya. Tapi, nama Islam menunjukkan sikap dan sifat
pemeluknya terhadap Allah. Yang memberi nama Islam juga
bukan seseorang, bukan pula
suatu masyarakat, tapi Allah
Ta’ala, Pencipta alam semesta
dan segala isinya. Jadi, Islam
sudah dikenal sejak sebelum kedatangan Nabi Muhammad
Shalallahu Alaihi Wassallam dengan
nama yang diberikan Allah. Islam berasal dari kata salima
yuslimu istislaam–artinya tunduk
atau patuh– selain yaslamu
salaam –yang berarti selamat,
sejahtera, atau damai. Menurut
bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian:
Islamul wajh (ikhlas menyerahkan
diri kepada Allah), istislama
(tunduk secara total kepada
Allah), salaamah atau saliim (suci
dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan
damai). Semua pengertian itu
digunakan Alquran seperti di
ayat-ayat berikut ini. Dan siapakah yang lebih baik
agamanya dari pada orang yang
ikhlas menyerahkan dirinya
kepada Allah, sedang dia pun
mengerjakan kebaikan, dan ia
mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil
Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.
(An-Nisa’: 125) Maka apakah mereka mencari
agama yang lain dari agama Allah,
padahal kepada-Nya-lah
menyerahkan diri segala apa
yang di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah
mereka dikembalikan. (Ali Imran:
83) Kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati
yang bersih. (Asy-Syu’araa’: 89) Apabila orang-orang yang
beriman kepada ayat-ayat kami
itu datang kepadamu, Maka
Katakanlah: “Salaamun alaikum
(Mudah-mudahan Allah
melimpahkan kesejahteraan atas kamu).” Tuhanmu Telah
menetapkan atas Diri-Nya kasih
sayang, (yaitu) bahwasanya
barang siapa yang berbuat
kejahatan di antara kamu
lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah
mengerjakannya dan mengadakan
perbaikan, Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Al-An’am: 54) Janganlah kamu lemah dan minta
damai padahal kamulah yang di
atas dan Allah pun bersamamu
dan dia sekali-kali tidak akan
mengurangi pahala amal-amalmu.
(Muhammad: 35) Sementara sebagai istilah, Islam
memiliki arti: tunduk dan
menerima segala perintah dan
larangan Allah yang terdapat
dalam wahyu yang diturunkan
Allah kepada para Nabi dan Rasul yang terhimpun di dalam Alquran
dan Sunnah. Manusia yang
menerima ajaran Islam disebut
muslim. Seorang muslim mengikuti
ajaran Islam secara total dan
perbuatannya membawa perdamaian dan keselamatan bagi
manusia. Dia terikat untuk
mengimani, menghayati, dan
mengamalkan Alquran dan
Sunnah. Kalimatul Islam (kata Al-Islam)
mengandung pengertian dan
prinsip-prinsip yang dapat
didefinisikan secara terpisah dan
bila dipahami secara menyeluruh
merupakan pengertian yang utuh. 1. Islam adalah Ketundukan
Allah menciptakan alam semesta,
kemudian menetapkan manusia
sebagai hambaNya yang paling
besar perannya di muka bumi.
Manusia berinteraksi dengan sesamanya, dengan alam semesta
di sekitarnya, kemudian berusaha
mencari jalan untuk kembali
kepada Penciptanya. Tatkala
salah berinteraksi dengan Allah,
kebanyakan manusia beranggapan alam sebagai
Tuhannya sehingga mereka
menyembah sesuatu dari alam.
Ada yang menduga-duga sehingga
banyak di antara mereka yang
tersesat. Ajaran yang benar adalah ikhlas berserah diri
kepada Pencipta alam yang
kepada-Nya alam tunduk patuh
berserah diri (An-Nisa: 125).
Maka, Islam identik dengan
ketundukan kepada sunnatullah yang terdapat di alam semesta
(tidak tertulis) maupun Kitabullah
yang tertulis (Alquran). 2. Islam adalah Wahyu Allah
Dengan kasih sayangnya, Allah
menurunkan Ad-Dien (aturan
hidup) kepada manusia. Tujuannya
agar manusia hidup teratur dan
menemukan jalan yang benar menuju Tuhannya. Aturan itu
meliputi seluruh bidang kehidupan:
politik, hukum, sosial, budaya, dan
sebagainya. Dengan demikian,
manusia akan tenteram dan
damai, hidup rukun, dan bahagia dengan sesamanya dalam
naungan ridha Tuhannya (Al-
Baqarah: 38). Karena kebijaksanaan-Nya, Allah
tidak menurunkan banyak agama.
Dia hanya menurunkan Islam.
Agama selain Islam tidak diakui di
sisi Allah dan akan merugikan
penganutnya di akhirat nanti. Sesungguhnya agama (yang
diridhai) di sisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi Al-Kitab
kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di
antara mereka. Barangsiapa yang
kafir terhadap ayat-ayat Allah,
maka sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya. (Ali Imran: 19) Islam merupakan satu-satunya
agama yang bersandar kepada
wahyu Allah secara murni.
Artinya, seluruh sumber nilai dari
nilai agama ini adalah wahyu yang
Allah turunkan kepada para Rasul-Nya terdahulu. Dengan kata
lain, setiap Nabi adalah muslim dan
mengajak kepada ajaran Islam.
Ada pun agama-agama yang lain,
seperti Yahudi dan Nasrani,
adalah penyimpangan dari ajaran wahyu yang dibawa oleh para
nabi tersebut. 3. Islam adalah Agama Para Nabi
dan Rasul
Perhatikan kesaksian Alquran
berikut ini bahwa Nabi Ibrahim
adalah muslim, bukan Yahudi atau
pun Nasrani. Dan Ibrahim Telah mewasiatkan
ucapan itu kepada anak-anaknya,
demikian pula Ya’qub. (Ibrahim
berkata): “Hai anak-anakku!
Sesungguhnya Allah Telah memilih
agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam”. (Al-Baqarah: 132) Nabi-nabi lain pun mendakwahkan
ajaran Islam kepada manusia.
Mereka mengajarkan agama
sebagaimana yang dibawa Nabi
Muhammad saw. Hanya saja, dari
segi syariat (hukum dan aturan) belum selengkap yang diajarkan
Nabi Muhammad saw. Tetapi,
ajaran prinsip-prinsip keimanan
dan akhlaknya sama. Nabi
Muhammad saw. datang
menyempurnakan ajaran para Rasul, menghapus syariat yang
tidak sesuai dan menggantinya
dengan syariat yang baru. Katakanlah: “Kami beriman
kepada Allah dan kepada apa
yang diturunkan kepada kami dan
yang diturunkan kepada Ibrahim,
Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-
anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi
dari Tuhan mereka. kami tidak
membeda-bedakan seorangpun di
antara mereka dan Hanya
kepada-Nyalah kami menyerahkan
diri.” (Ali Imran: 84) Menurut pandangan Alquran,
agama Nasrani yang ada
sekarang ini adalah penyimpangan
dari ajaran Islam yang dibawa
Nabi Isa a.s. Nama agama ini sesuai
nama suku yang mengembangkannya. Isinya jauh
dari Kitab Injil yang diajarkan Isa
a.s.. Agama Yahudi pun telah
menyimpang dari ajaran Islam
yang dibawa Nabi Musa a.s.. Diberi
nama dengan nama salah satu Suku Bani Israil, Yahuda. Kitab
Suci Taurat mereka campur aduk
dengan pemikiran para pendeta
dan ajarannya ditinggalkan. 4. Islam adalah Hukum-hukum Allah
di dalam Alquran dan Sunnah.
Orang yang ingin mengetahui apa
itu Islam hendaknya melihat
Kitabullah Alquran dan Sunnah
Rasulullah. Keduanya, menjadi sumber nilai dan sumber hukum
ajaran Islam. Islam tidak dapat
dilihat pada perilaku penganut-
penganutnya, kecuali pada pribadi
Rasulullah saw. dan para sahabat
beliau. Nabi Muhammad saw. bersifat ma’shum (terpelihara
dari kesalahan) dalam
mengamalkan Islam. Beliau membangun masyarakat
Islam yang terdiri dari para
sahabat yang langsung
terkontrol perilakunya oleh Allah
dan Rasul-Nya. Jadi, para sahabat
Nabi tidaklah ma’shum bagaimana Nabi, tapi mereka istimewa
karena merupakan pribadi-pribadi
dididik langsung Nabi Muhammad.
Islam adalah akidah dan ibadah,
tanah air dan penduduk, rohani
dan amal, Alquran dan pedang. Pemahaman yang seperti ini telah
dibuktikan dalam hidup Nabi, para
sahabat, dan para pengikut
mereka yang setia sepanjang
zaman. 5. Islam adalah Jalan Allah Yang
Lurus
Islam merupakan satu-satunya
pedoman hidup bagi seorang
muslim. Baginya, tidak ada agama
lain yang benar selain Islam. Karena ini merupakan jalan Allah
yang lurus yang diberikan kepada
orang-orang yang diberi nikmat
oleh Allah. Dan bahwa (yang kami
perintahkan ini) adalah jalanKu
yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-
jalan (yang lain), Karena jalan-
jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa. (Al-An’am: 153) Kemudian kami jadikan kamu
berada di atas suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama
itu), Maka ikutilah syariat itu dan
janganlah kamu ikuti hawa nafsu
orang-orang yang tidak Mengetahui. (Al-Jaatsiyah: 18) 6. Islam Pembawa Keselamatan
Dunia dan Akhirat
Sebagaimana sifatnya yang
bermakna selamat sejahtera,
Islam menyelamatkan hidup
manusia di dunia dan di akhirat. Keselamatan dunia adalah
kebersihan hati dari noda syirik
dan kerusakan jiwa. Sedangkan
keselamatan akhirat adalah
masuk surga yang disebut Daarus
Salaam. Allah menyeru (manusia) ke
darussalam (surga), dan
menunjuki orang yang
dikehendaki-Nya kepada jalan
yang lurus (Islam). (Yunus: 25) Dengan enam prinsip di atas, kita
dapat memahami kemuliaan dan
keagungan ajaran agama Allah ini.
Nabi Muhammad saw. bersabda,
“Islam itu tinggi dan tidak ada
kerendahan di dalamnya.” Sebagai ajaran, Islam tidak
terkalahkan oleh agama lain.
Maka, setiap muslim wajib
meyakini kelebihan Islam dari
agama lain atau ajaran hidup
yang lain. Allah sendiri memberi jaminan. Pada hari Ini Telah
Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan Telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan Telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu. (Al-Maa-idah: 3) Jd apa yg selama itu dituduhkan
olh penginjil/orientalis bhw Islam
agama buatan adalah sgt tidak
terbukti. Justru kristen itulah agama
buatan setelah kematian yesus. Apa agamanya yesus?
Apakah yesus menyuruh utk
beragama kristen?
Mana perintah yesus dlm
berpuluh-puluh alkitab foklor itu
utk memeluk kristen?

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

AHLI ILMU YANG MENERIMA KEBENARAN

Posted on Maret 5, 2012. Filed under: Uncategorized |

Tagatat Tejasen: Ilmuwan
yang ‘Islamkan’ Lima
Mahasiswa Sebelum Menjadi
Muslim REPUBLIKA.CO.ID,
”Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami
masukkan mereka ke dalam
neraka. Setiap kali kulit mereka
hangus, Kami ganti kulit mereka
dengan kulit yang lain, supaya
mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)
Bagi sebagian besar umat Islam,
ayat di atas terdengar seperti
ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa
neraka bagi orang-orang yang
tidak beriman. Namun tidak
demikian bagi Tagatat Tejasen,
seorang ilmuwan Thailand di
bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.
***
Konferensi Kedokteran Saudi
ke-6 di Jeddah yang diikuti
Tejasen pada Maret 1981
menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban
itu. Dalam konferensi yang
berlangsung selama lima hari itu,
sejumlah ilmuan Muslim menyodori
Tejasen beberapa ayat Alquran
yang berhubungan dengan anatomi.
Tejasen yang beragama Buddha
kemudian mengatakan bahwa
agamanya juga memiliki bukti-
bukti serupa yang secara akurat
menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para
ilmuan Muslim yang tertarik
mempelajarinya meminta
profesor asal Thailand itu untuk
menunjukkan ayat-ayat
tersebut pada mereka. Setahun kemudian, Mei 1982,
Tejasen menghadiri konferensi
kedokteran yang sama di
Dammam, Arab Saudi. Saat
ditanya tentang ayat-ayat
anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru
meminta maaf dan mengatakan
bahwa ia telah menyampaikan
pernyataan tersebut sebelum
mempelajarinya. Ia telah
memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada
referensi darinya yang dapat
dijadikan bahan penelitian.
Ia kemudian menerima saran para
ilmuan Muslim untuk
membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore,
seorang profesor bidang anatomi
asal Kanada. Makalah itu
berbicara tentang kecocokan
antara embriologi modern
dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.
Tejasen tercengang saat
membacanya. Sebagai ilmuwan di
bidang anatomi, ia menguasai
dermatologi (ilmu tentang kulit).
Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga
lapisan global, yakni Epidermis,
Dermis, dan Sub Cutis. Pada
lapisan yang terakhirlah, Sub
Cutis, terdapat ujung-ujung
pembuluh darah dan syaraf. Penemuan modern di bidang
anatomi menunjukkan bahwa
luka bakar yang terlalu dalam
akan mematikan syaraf-syaraf
yang mengatur sensasi. Saat
terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub
Cutis), seseorang tidak akan
merasakan nyeri. Hal itu
disebabkan tidak berfungsinya
ujung-ujung serabut syaraf
afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka
bakar tersebut.
Makalah itu tidak saja
menunjukkan keberhasilan
teknologi kedokteran dan
perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan
kebenaran Alquran. Ayat 56
surah An-Nisa’ mengatakan
bahwa Allah akan memasukkan
orang-orang kafir ke dalam
neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru
setiap kali kulit itu hangus
terbakar, agar mereka
merasakan pedihnya azab Allah.
Jantung Tejasen berdebar.
“Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang
lalu telah mengetahui fakta
kedokteran ini?”
*** Sebelum berhasil mengatasi
keterkejutannya, Tejasen
disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang
mendampinginya, “Mungkinkah
ayat Alquran ini bersumber dari
manusia?”
Ketua Jurusan Anatomi
Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak,
kitab itu tidak mungkin berasal
dari manusia. Ia kemudian
termangu dan melanjutkan
responsnya, “Lalu dari mana
kiranya Muhammad menerimanya?”
Mereka memberitahu Tejasen
bahwa Tuhan itu adalah Allah,
yang membuat Tejasen semakin
ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah
itu?” tanyanya. Dari para ilmuan Muslim tersebut,
Tejasen mendapatkan
keterangan tentang Allah, Sang
Pencipta yang dari-Nya
bersumber segala kebenaran dan
kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang
diterimanya. Ia membenarkannya.
Profesor yang pernah menjadi
dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Chiang Mai lalu itu
kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah
tentang pengetahuan dan
penemuan barunya itu. Informasi
yang dikutip oleh laman
special.worlofislam.info
menyebutkan bahwa kuliah- kuliah profesor yang masih
beragama Buddha itu, di luar
dugaan, telah mengislamkan lima
mahasiswanya.
Hingga akhirnya, pada Konferensi
Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh,
Tejasen kembali hadir dan
mengikuti serangkaian pidato
tentang bukti-bukti Qurani yang
berhubungan dengan ilmu medis.
Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu,
Tejasen banyak mendiskusikan
dalil-dalil tersebut bersama para
sarjana Muslim dan non-Muslim.
Di akhir konferensi, 3 November
1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh
peserta konferensi, ia
menceritakan awal
ketertarikannya pada Alquran,
juga kekagumannya pada
makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran
Islam.
“Segala yang terekam dalam
Alquran 1.400 tahun yang lalu
pastilah kebenaran, yang bisa
dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa
membaca dan menulis pastilah
menerimanya sebagai cahaya
yang diwahyukan oleh Yang
Maha Pencipta,” katanya.
Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat
syahadat.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

« Entri Sebelumnya
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

  • My Twitter

    • @indosat saya daftar paket opmin m3, tapi sisa pulsanya terus d ambl sampai hbs, ada solusi...?Follow this 2 years ago
    • katanya takan ada pemadaman d bln puasa, eh ternyata gelap terus @plnFollow this 2 years ago
    • beli paket opera mini di m3, sisa pulsanya d ambil terus hingga abis,licik @indosatFollow this 2 years ago
    • berdoalah sebelum tidur.....,Follow this 3 years ago
    • selalu ada hikmah dibalik semua kejadian, tak terkecuali pada musibah @kaka_trikshareFollow this 3 years ago
  • Blog Stats

    • 8,925 hits

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...